BINTANGSULUT.COM – Dr Ferry Daud Liando Memberikan apresiasi yang besar bagi Ir Jems Tuuk atas usulan terkait buku APBD tahun 2020 bukan dicetak melalui buku tebal melainkan softcopy saja, agar biaya cetakan bisa terpakai lebih maksimal bagi kesejatraan Rakyat.

Melalui akun grup whasApp milik Liando memberikan dukungan dan memaksakan agar pemerintah dapat menerima usulan itu”. Kata liando atas jawaban berita dari bintangsulut.com

 

“Mari kita selalu berpikir hebat dan maju…. kita wajib mengikuti perekembangan zaman, ilmu pengetahuan…. kita tarik dan maknai positif secara terbuka dan transparan, biar semua lapisan masyarakat, akademisi dan pelaku usaha serta politikus dapat mengakses secarah keseluruhan isi Anggaran pendapatan dan belanja daerah, bukan hanya tingkat provinsi tetapi juga kabupaten/kota yang berjumlah 15 daerah di Sulut ini”. Ungkap Pengamat politik ini.

“Salah satu kegagalan pemerintah daerah di sebabkan masih buruknya kualitas pelayanan publik. Buruknya kualitas pelayanan di sebabkan tidak profesionalnya kinerja birokrasi,” kata Liando.

Menurutnya anggaran besar untuk membiayai diklat-diklat pegawai dan dinaikkannya tunjangan jabatan ternyata tidak memacu kinerja aparat, dalam hal pelayanan.

Liando menemukan selama ini pegawai kerap bekerja karena suap, tidak cekatan, lambat dan tidak suka melayani. “Mereka lebih suka dihormati daripada melayani,” tegas Liando

Inilah isi usulan yang disampaikan Ir Jems Tuuk anggota DPRD dari partai PDI-P Dapil Bolmong Raya yang disetujui oleh Dr Liando.

Saya ingin memberikan pendapat saja lewat ngopi bareng (ngobrol pinter) ini”.

“Lebih dari pada itu, saya sangat yakin.. pak Gubernur dan pak wakil Gubernur dapat memaknai pendapat saya, ‘dunia sekarangkan, pada dunia canggih? Marilah kita manfaatkanya…  buatlah dengan cara menssoftcopy buku APBD, biar kami sebagai anggota parlement bisa membaca dimana saja kami berada…. kalau sudah berbentuk softcopy didalam toilet saja bisa dibaca, “ketika kita teringat ada program yang sangat menyentuh rakyat, bisa langsung dibuka lewat gadget… jadi semuanya termudahkan akses membaca” . Kata Tuuk.

Mencegah terjadinya polemik terkait keterlambatan pengiriman Buku APBD 2020 ke DPRD Sulut, Anggota DPRD Sulut Ir. Julius Jems Tuuk berpendapat.

“Dokumen ini dikirim saja berbentuk Softcopy (ms. Excel), Ngapain harus berbentuk Hardcopy (cetakan buku). Akhirnya berujung di keterlambatan dan memakan biaya besar….

“APBD 2020 diberikan dalam bentuk Ms. Excel saja. Dikirim ke Email masing-masing Anggota Dewan, paling dokumen tersebut besarannya hanya sekitar 3Mb sampai 5Mb. Supaya tidak terjadi polemik apakah Dokumen APBD sudah dikirim atay belum,” ucap Legislator Partai PDI-P, Kamis (7/11/19) ke awak media.

JT sapaan akrabnya juga menuturkan cara ini juga agar adanya transparansi ke masyarakat plus menghemat uang rakyat.

“Cetakan buku APBD 2020 yang sangat tebal itu kemungkinan hanya akan di baca oleh Anggota DPR di meja kerja kantor saja. Lagian, kalau buka itu dibawa kemanapun pasti sangat ribet, Tapi jika Dokumen APBD itu sudah berbentuk Softcopy, biarpun anggota DPR itu diluar kantor bisa membuka dokumen tersebut melalui Gadget/Laptop. Kapan saja dan dimana saja, ditambah memudahkan kita untuk mencari apapun, hanya menulis kata kunci pencarian pasti akan muncul semuanya dan juga diatur per- SKPD agar lebih teratur,” kata Tuuk.

Tak hanya itu, Tuuk menambahkan sesuai arahan Gubernur Sulut semua laporan harus terbuka ke masyarakat.

“Gubernur Sulut tidak pernah membuat APBD akal-akalan. Selalu didorong agar semua masyarakat harus tahu,” tutupnya.

Resa Sky