Bintangsulut.com, SULUT – Forum Group Discussion (FGD) bertema Transformasi Sulampua Menuju Global Logistics Hub menjadi momentum penting dalam memperkuat posisi Indonesia Timur di rantai pasok global. Kegiatan yang berlangsung di Aula GKN Manado ini menegaskan peran strategis Pelabuhan Bitung sebagai pintu utama logistik kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Johannes Victor Mailangkay hadir bersama para pemangku kepentingan nasional dan internasional, termasuk Duta Besar RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun serta perwakilan dunia usaha dan investor.

FGD ini memfokuskan pembahasan pada pengembangan layanan direct call dari Pelabuhan Bitung yang dinilai mampu mengubah wajah logistik Indonesia Timur. Diskusi dipandu oleh Kepala Kanwil Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara Erwin Situmorang dan Ketua APINDO Sulut Riko Lieke.

Dalam paparannya, Gubernur Yulius Selvanus menyebut kawasan Sulampua memiliki potensi besar sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, ketergantungan pada pelabuhan di Pulau Jawa selama ini menyebabkan inefisiensi logistik dan menurunkan daya saing produk Indonesia Timur.

“Direct call dari Bitung adalah solusi konkret. Ini bukan hanya memangkas waktu dan biaya, tetapi juga membuka akses langsung ke pasar Asia Timur,” ujar Yulius.

Ia menjelaskan, keberhasilan Bitung sebagai simpul logistik nasional akan berdampak luas bagi pengembangan industri, distribusi regional, dan peningkatan ekspor kawasan timur Indonesia.

Sementara itu, Duta Besar RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun menegaskan bahwa Tiongkok merupakan mitra dagang utama Indonesia dan salah satu investor terbesar. Nilai perdagangan kedua negara melonjak dari USD 44 miliar pada 2015 menjadi USD 148 miliar pada 2024, dengan tren yang terus meningkat.

Menurut Dubes, pembukaan jalur direct call Bitung–Tiongkok merupakan terobosan penting yang akan mempercepat arus barang, menurunkan biaya logistik, serta memperkuat daya saing produk Indonesia Timur di pasar global.

“Ini bukan sekadar jalur perdagangan, tetapi jalur pertumbuhan dan investasi,” ujarnya.

Para pelaku usaha yang hadir menyambut positif forum ini dan berharap layanan direct call dari Bitung dapat segera berjalan secara reguler. Mereka menilai langkah ini akan menciptakan kepastian usaha, meningkatkan efisiensi bisnis, dan memperkuat posisi Indonesia Timur dalam rantai pasok Asia Pasifik.

FGD ini menegaskan bahwa pengembangan Bitung sebagai hub logistik bukan agenda daerah semata, melainkan strategi nasional untuk mempercepat kemajuan Indonesia Timur dan memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.

(Resa)