“Melawan Stigma dan Diskriminasi Penyakit Kusta”

BINTANGSULUT.COM – Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara bidang pengendali dan pemberantasan penyakit menular dan Perhimpunan Tumou Tou melakukan kegiatan jumpa bersama pemerhati dan penyandang kusta serta bertujuan mengeratkan hubungan demi menepis stigma negatif di masyarakat dalam rangka hari kusta sedunia, yang dilakukan dikota Tomohon.

Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan Hari Kusta Sedunia diperingati pada 30 Januari 2022. Momen ini merupakan kesempatan untuk meningkatkan kesadaran terhadap penyakit kusta serta memperjuangkan diakhirinya stigma dan diskriminasi terkait kusta.

dr Teki Budiman sebagai technical advisor kusta Indonesia turut hadir dalam kegiatan ini, kepada wartawan media ini mengungkapkan bahwa disaat sekarang masi ada ketakutan yang mendasar bagi masyarakat dengan pasien kusta dimana adanya penderita, jadi.. mari kita membangun fondasi yang kuat agar stigma ketakutan itu terhapus”. Katanya.

Budiman juga meminta pemerintah Sulut memiliki peran penting dalam mengeksekusi stigma yang tidak baik ini, semua stacholder harus memainkan peran secara aktif demi terwujud keadilan bagi penderita kusta.

Hal lain juga disampaikan Budiman pemerintah dan DPRD harus alokasikan dana khusus yang lebih kepada tenaga kesehatan, karena yang saya ketahui nakes provinsi dan kabupaten kota jemput bola kesetiap desa dan kelurahan untuk mendapatkan penderita kusta”. Tutupnya.

Ditempat yang sama wasor kusta Dinkesda Sulut Jeane Palit menerangkan kegiatan yang dilakukan setiap tahun ini tercipta karena adanya pemerhati yang sangat peduli dengan keberadaan penderita kusta, bahkan donator kegiatan ini dari pasien yang suda sembuh dan beberapa organisasi yang berempati, serta teman teman acesor dikabupaten kota.

Dinas sangat aktif melakukan kegiatan kemanusiaan ini, kabid dan ibu kadis juga selalu memberikan respon positif karena target tahun 2024 secara nasional penderita kusta pada level tereleminasi atau dengan kata lain harus pada angka berhenti”. ungkap Palit.

Ditambahkan pula Ferdinand Assa ketua perhimpunan tumou tou (komunitas orang perna mengalami kusta (YPMK) mengatakan ” Kusta bukan penyakit kutukan tetapi penyakit biasa, ada obat dipuskesmas.

walapun demikian Assa juga membenarkan ada penolakan secara nyata dimasyarakat terhadap penderita, kita bersama sama menyebarkan informasi yang benar, jangan tamba atau kurang, ini adalah tugas semua elemen lapisan masyarakat, tidak ada yang perlu ditakuti”. ungkapnya, saya juga mantan penderita kusta dan suda sembuh 100%.

Kesaksian Mahasiswi Amini Takalumang, asal desa paralele kabupaten Sangir yang berumur 20 tahun ini, saat ini sementara proses kesembuhan dari penyakit kusta turut hadir juga dalam kegiatan ini mengungkapkan ” Saki hati ketika divonis mengalami penyakit kusta tahun 2020 agustus oleh nakes puskes dari sangir, ada diskriminasi dari teman-teman, mereka menjauh dari saya, bahkan orang tua saya sempat meminta untuk berhenti kuliah karena perlakuan yang saya terima dari lingkungan dimana saya tinggal”. kata Amini sambil menetaskan air mata.

Sedangkan Pdt Franky Moukar sebagai penyandang dana bagi orang penyakit kusta pada level rehabilitasi fisik menjelaskan ” dana yang keluar baik pribadi maupun dari beberapa teman merupakan dana untuk memfasilitasi penderita ketika penyakit kusta suda masuk level memprihatinkan, termasuk level amputasi dan lainya, biaya yang kami bantu merupakan bentuk biaya transportasi serta anggaran makan dan minum penderita dan keluarga.

Terinformasi kegiatan akan berlanjut dihari sabtu dan minggu pembagiaan dan pemasangan baliho, stiker kusta di kabupaten Minahasa demi menghapus stigma buruk, oleh tim Dinkesda Provinsi Sulut.

(Resa Sky)