bintangsulut.com – Dumoga, Ketua GP3A golongan 2 Daerah Irigasi (DI) Kosinggolan Alfons Aleng mengingatkan pihak pelaksana proyek Rehabilitasi Irigasi Kosinggolan Tahap 3 di Kabupaten Bolaang Mongondow tepatnya di daerah Doloduo dan Dumoga Raya, agar dapat menuntaskan pekerjaan tepat waktu mengingat jadwal musim tanam awal tahun yang menjadi program kelompok tani bisa terpenuhi.

Menurutnya belajar dari pengalaman proyek rehabilitasi tahap 1 dan 2 dapat dituntaskan namun dengan sejumlah catatan, lebih pada tidak tepat waktu dan hasil pekerjaan tidak baik.

” Kami sebagai organisasi petani khususnya GP3A yang mencakup wilayah daerah irigasi Kosinggolan golongan II sangat berharap untuk tahap 3 ini benar benar selesai tepat waktu sesuai kontrak dengan memenuhi kualitas, kuantitas dan estetika, ” ujar Alfons kepada sejumlah wartawan baru – baru ini.

Khusus progress tahap 3 yang sementara dikerjakan pelaksana PT Pasific Nusa Indah (PNI) menurut Alfons yang juga Ketua KTNA dan Penyuluh Swadaya Kecamatan Dumoga Timur ini ada sedikit kekhawatiran tidak tuntas tepat waktu mengingat sisa pekerjaan tinggal 30 hari kedepan.

Meski dalam pertemuan kelompok GP3A bersama PPK Irigasi Balai Wilayah Sungai Sulawesi I, konsultan serta pelaksana PT PNI yang yang dilaksanakan belum lama ini telah disepakati rehabilitasi tahap 3 akan tuntas tepat waktu.

” Dilihat dari pengalaman dan keadaan di lapangan memang ada kekhawatiran tahap 3 ini bakalan tidak selesai tepat waktu. Kami memang berinisiatif mengundang pihak BWS dalam hal ini PPK Irigasi untuk mengadakan rapat pertemuan dan sudah terlaksana meski dalam rapat ini suasananya alot dengan berbagai argumentasi tetapi semua ini bertujuan agar pekerjaan rehabilitasi tahap 3 ini selesai dengan baik, ” terangnya.

Ia juga memberi apresiasi ketegasan pihak BWS melalui Satker Irigasi Ronal Parengkuan yang terus mengingatkan pihak pelaksana untuk menuntaskan pekerjaan tepat waktu agar tidak terjadi seperti pada tahap 1 dan 2.

” Harapan kami benar – benar pekerjaan ini selesai tepat waktu sambil tentunya memperhatikan berbagai usulan petani yang bertujuan untuk membantu BWS dalam menjalankan program dan anggaran ini, begitupun penyedia jasa harus memacu pekerjaan tersebut karena dikejar waktu hingga akhir tahun ini, ” imbuhnya.

Disisi lain Alfon juga menyoroti kondisi di jaringan irigasi Kosinggolan yang dipenuhi sedimen dan tumbuhan eceng gondok dimana banyak endapan yang sampai saat ini belum jelas siapa sebenarnya atau instansi mana yang bertanggung jawab melakukan pekerjaan pembersihan.

” Hasil penjelasan PPK irigasi itu bukan kewenangan BWS tapi sudah masuk tanggung jawab Tugas Pembantuan Operasi dan Peliharaan (TPOP), sebenarnya kami juga ikut mengundang Satker TPOP pak Hendrik Rondonuwu dalam pertemuan bersama petani tapi sayangnya beliau tidak bisa hadir, ujar Alfons.

Sementara itu Jimmy dari pihak pelaksana PT Pasific Nusa Indah optis pihaknya mampu menuntaskan pekerjaan sesuai kontrak.

” Progres telah telah mencapai 60 persen
Kami optimis di akhir tahun 2023 dapat menyelesaikan pekerjaan 100 persen, ” tegasnya.

Meski diakui terdapat sejumlah kendala di lapangan khususnya ketersediaan material batu pecah speed 1 dan 2 di wilayah tersebut yang sangat kurang.

Untuk.memenuhi ketersediaan material tersebut pihaknya terus berupaya mendatangkan
material tersebut walaupun harus didatangkan dari wilayah lain.

” Kami akan terus mengoptimalkan dan memacu penyelesaian meski harus kerja ekstra lembur untuk mengejar target demikian juga tenaga kerja yang ada kami siapkan 10 sampai 45 orang di tiap titik lokasi di ruas 5 sampai
10 di BSN dan BBKN. Jadi kurang lebih seratus orang tenaga untuk pekerjaan penyelesaian tahap tiga ini, ” pungkas Jimmy.