SULUT – berbagai macam pencegahan dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Sulut terkait virus Rabies ( virus yang dikeluarkan dari anjing melalui gigitan) yang saat ini perlu dan harus diketahui oleh masyarakat, apalagi sekarang ini telah ditetapkan kejadian luar biasa (KLB) di kabupaten kepulauan Sangir dimana sudah memakan korban 8 nyawa manusia.

Kepalah Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Utara dr Debby Kalalo melalui kepalah Bidang pencegahan penyakit menular dr Staven Dandel kepada wartawan media¬†Bintangsulut.com¬†mengatakan: pihak dinas telah turun lapangan dan melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan aturan dan mengobservasi lingkungan, dibeberapa tempat kejadian “jadi saat ini tim sudah dapat melakukan kerja secara maksimal agar virus ini tidak lagi memakan korban”. Ungkap Steaven.

Adapun 3 metode pencegahan yang disampaikan oleh dr Steaven Dandel secara umum bagi Masyarakat yakni
– Dicegah sebelum sakit ada dengan cara, promosi kesehatan. Contohnya, memberikan vitamin antibody untuk anak-anak.
– bentuk pertolongan sedini mungkin apabila sudah terinfeksi.
– sudah ditangani Dokter di rumah sakit.

Metode pertama dan kedua yang menjadi tupoksi dari kesehatan masyarakat, dan yang ketiga sudah menjadi tupoksi dari Dokter spesialis.

Untuk sekarang yang menjadi pekerjaan rumah untuk kita (Dinkes) adalah virus rabies yang pada minggu lalu terditeksi ada 60 orang tergigit anjing atau hewan pembawa rabies.

Diketahui, pergerakan virus rabies adalah menuju otak manusia. apabila virus tersebut sudah sampai di otak, pasien sudah tidak bisa tertolong lagi. Gigitan yang paling beresiko tinggi adalah gigitan di atas bahu manusia.

Pertanyaan penting pun muncul terkait stok obat anti rabies, Dandel pun mengatakan sampai saat ini di seluruh dunia lagi kekosongan stok obat anti rabies, tapi beruntungnya indonesia punya stok produksi dari produsen penyalur apabila sudah ready dan tentunya Pemerintah Provinsi Sulut mempunyai dana untuk pembelian Vaksin tersebut.

“Pabrik produksi vaksin ini hanya ada 1 di seluruh dunia yakni di Negara Prancis. Pabrik produksi juga memang ada di india tapi belum ada jaminan dari BPom,” ucapnya.

Mengacu dari pernyataan tersebut, dokterpun menuturkan harus menjadi pekerjaan secara Lintaa Sektor dalam penanggulan hal ini adalah dari Dinas Peternakan.

Lanjut Dandel “Karena Vaksin untuk hewan banyak sekali dan murah, hanya sekitar 10-15 ribu rupiah, jadi saya pikir kita harus ptotek hewannya demi menjaga stabilnya obat rabies bagi manusia itu solusi paling tepat dan yang terutama. Sesuai data, ada sekitar 247 ribu populasi anjing di Sulut. Sebaliknya, Vaksin untuk manusia sangat kurang dan harganya berkisar 900 ribu rupiah,”

Stok vaksin rabies yang di distribusi dari pemerintah pusat untuk Sulut, terakhir adalah 2000 vaksin, itu yang disalurkan ke Seluruh Puskesmas. Pemakaian untuk pasiennya pun tidak sembarangan, harus ada observasi ketat”. Ungkap Dia.

Pertanyaan lainnya juga muncul, apabila ada seorang tergigit hewan rabies dan pada saat itu juga harus memerlukan pertolongan berupa vaksinisasi, disaat yang sama stok vaksin di puskesmas kosong?

Dokter menjawab, “Gosok pakai air sabun luka gigitan selama 15 menit. Itu cara yang efektif”. Tutup pria ganteng ini.(Resa Sky)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here